.

Pages

Saturday, August 17, 2013

Cabang-Cabang Filsafat dan Prinsip dalam berfilsafat

  BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Upaya untuk mencari jawaban kebenaran melalui pendekatan berfikir secara kritis, integral, reflektif, radikal, sistimatis, dan universal.
Masih ada upaya lain untuk menjelaskan apa itu filsafat, yaitu dengan cara mengetahui macam-macam pengetahuan manusia. Filsafat adalah salah satu jenis pengetahuan manusia, yaitu pengetahuan filsafat. Akan tetapi, apa itu pengetahuan? Pengetahuan adalah keadaan tahu; pengetahuan ialah semua yang diketahui. Ini bukan definisi pengetahuan, tetapi sekedar menunjukkan apa kira-kira pengetahuan itu.
Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya maka pertanyaan yang dapat diajukan adalah: Apa yang dikaji oleh pengetahuan itu?(Ontologi), Bagaimana caranya mendapatkan pengetahuan tersebut?(Epistemologi), Serta untuk apa pengetahuan termaksud dipergunakan?(Aksiologi). Dengan mengetahui jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam kahasanah kehidupan kita.
Adapun mengenai prinsip berfilsafat, dalam kehidupan yang manusia tidak tahu apa yang akan terjadi di dalamnya, yang tidak tahu apa yang akan menimpanya, yang hanya bisa menebak dan  tidak bisa memastikan, karena yang ada hanyalah peluang yang belum tentu tepat, sehingga dapat merubah garis jalan kehidupannya yang membuat arah manusia itu berbelok entah kemana, yang kadang kelokan itu membawanya pada tujuan yang diharapkan dan kadang kebalikannya, manusia membutuhkan komponen yang tak bisa dihiraukan begitu saja itu adalah log pose atau penunjuk arah dan tekad yang kuat agar garis finish yang ditujunya bisa tercapai. Namun kadang tekad itu mengendur bahkan hilang tergantikan oleh tekad yang baru. Itulah yang akan terjadi bila manusia tidak mengingat akan prinsip yang harus ia jadikan penguat tekad dan penunjuk arah tersebut.

           

PEMBAHASAN

A.    CABANG-CABANG FILSAFAT
pokok permasalahan yang dikaji Filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika), serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika).[1] Ketiga cabang utama filsafat ini kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang lebih spesifik diantaranya filsafat ilmu.
Akan tetapi pada umumnya filsafat dibagi ke dalam enam bidang studi atau cabang sebagai berikut:[2]
a.       Epistemologi
b.      Metafisika
c.       Logika
d.      Etika
e.       Estetika
f.       Filsafat-filsafat khusus atau Filsafat tentang berbagai disiplin seperti filasafat hukum, filsafat ilmu, filsafat agama, filsafat pendidikan, dan sebagainya.
Dan dalam garis besarnya filsafat mempunyai tiga cabang besar, yaitu teori pengetahuan, teori hakikat, dan teori nilai[3]. Teori pengetahuan pada dasarnya membicarakan cara  memperoleh pengetahuan. Teori hakikat membahas semua objek, dan hasilnya ialah pengetahuan filsafat. Yang ketiga, teori nilai atau disebut juga Aksiologi, membicarakan guna  pengetahuan tadi. Ringkasannya ialah :
-          Teori pengetahuan membicarakan cara memperoleh pengetahuan, disebut Epistemologi.
-          Teori hakikat membicarakan pengetahuan itu sendiri, disebut Ontologi.
-          Teori nilai membicarakan guna pengetahuan itu, disebut Aksiologi.

1.      EPISTEMOLOGI
Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan.
Runes dalam kamusnya (1971) menjelaskan bahwa epistemologi is the branch of philosophy which investigates the origin, structur, method and validity of knowledge. Itu sebabnya Epistemologi sering disebut dengan filsafat pengetahuan karena ia membicarakan hal pengetahuan. Istilah epistemologi untuk pertama kalinya muncul dan digunakan oleh J.F Ferrier pada tahun 1854.[4]
Pengetahuan manusia ada tiga macam, yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, pengetahuan mistik. Pengetahuan itu diperoleh manusia melalui berbagai cara dan dengan menggunakan berbagai alat. yaitu :
a.      Empirisme
kata Empirisme berasal dari kata Yunani empirikos yang berasal dari kata empiria, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi.
John Locke, bapak aliran ini pada zaman modern mengemukakan bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan.[5] Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan pada aliran ini adalah eksperimen.
b.      Rasionalisme
Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan, pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan me memberikan bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, untuk sampainya manusia kepada kebenaran adalah semata-mata dengan akal.
Empirisme menurut Rasionalisme merupakan bahan yang belum jelas, disebabkan kelemahan alat indera (indera terbatas, indera menipu). Bahan ini kemudian dipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman berpikir. Akan tetapi, Akal dapat juga menghasilkan pengetahuan yang tidak berdasrkan bahan inderawi sama sekali.
Orang mengatakan (biasanya) bapak aliran ini ialah Rene Descartes; ini benar. Akan tetapi, sesungguhnya paham seperti ini sudah ada jauh sebelum itu. Orang-orang Yunani Kuno telah meyakini juga bahwa akal adalah alat dalam memperoleh pengetahuan yang benar.[6]
c.       Positivisme
Tokoh aliran ini ialah August Compte. Ia berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus mempertajam dengan alat bantu (akal) dan diperkuat dengan eksperimen.[7] Jadi, pada dasarnya positivisme itu sama dengan empirisme plus rasionalisme.
d.      Intuisionisme
Henri Bergson adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatas, akal juga terbatas. Objek-objek yang kita tangkap itu selalu berubah, demikian Bergson.[8] Dengan menyadari keterbatasan indera dan akal, Bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi. Kemampuan ini mirip dengan instinct.
Dapat disimpulkan Intuisionisme berarti pengetahuan yang diperoleh bukan lewat indera dan bukan lewat akal, melainkan lewat hati.
Berdasarkan yang telah kami uraikan tentang Epistemologi dapat diketahui bahwa manusia memperoleh pengetahuan dengan tiga cara, yaitu cara sains, cara filsafat(logika, akal) dan cara latihan rasa(intuisi[9]).
2.      ONTOLOGI
Ontologi dinamakan juga teori hakikat. Bidang pembicaraan teori hakikat luas sekali, segala yang ada dan yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup pengetahuan dan nilai (yang dicarinya ialah hakikat pengetahuan dan hakikat nilai). Nama lain untuk teori hakikat ialah teori tentang keadaan (Langeveld).[10]
            Apa hakikat itu? Hakikat ialah realitas; realitas ialah ke-real-an; “real” artinya kenyataan yang sebenarnya; jadi, hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara, bukan keadaan yang berubah.
Mula-mula kita bicarakan realitas benda-benda, kami akan paparkan menurut aliran materialisme, idealisme, dualisme, skeptisisme dan agnostisisme
            Menurut materialisme (juga sering disebut naturalisme[11]), hakikat benda adalah materi, benda itu sendiri. Rohani, jiwa, dan sebangsanya muncul dari benda. Rohani dan lainnya tidak akan ada seandainya tidak ada benda. Bagi naturalisme, roh, jiwa,dan tuhan bukan hakikat sebenarnya.
Sedangkan Idealisme berpendapat sebaliknya, hakikat benda adalah rohani, spirit, atau sebangsanya. Karena menurut mereka materi ialah kumpulan energi yang menempati ruang. Benda tidak ada, yang ada energi itu saja.
Aliran Dualisme berpendapat yang merupakan hakikat pada benda itu ada dua, material dan imaterial. Benda dan roh, jasad dan spirit. Materi bukan muncul dari roh, dan roh bukan muncul dari benda. Sama-sama hakikat. Karena itulah mungkin para penganut skeptisisme[12] berpendapat diragukan apakah manusia mampu mengetahui hakikat. Mungkin dapat, mungkin tidak.
Aliran agnostisisme menyerah sama sekali. Mereka berpendapat bahwa manusia tidak dapat mengetahui hakikat benda. A= not, gno = know. Di dalam bahasa Grik agnostisisme berarti unknow.[13]
Setelah membenahi cara memperoleh pengetahuan (Epistemologi), filosof mulai menghadapi objek-objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Objek-objek itu dipikirkan secara mendalam sampai pada hakikatnya. Maka dinamakan teori hakikat (Ontologi).
3.      AKSIOLOGI
Aksiologi membicarakan guna pengetahuan itu, untuk mengetahui kegunaan filsafat kita memulai dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori, kedua filsafat sebagai pandangan hidup, dan ketiga filsafat sebagai metode pemecahan masalah.[14]
Filsafat sebagai kumpulan teori filsafat digunakan untuk memahami dan mereaksi dunia pemikiran. Filsafat sebagai philosophy of life juga penting dipelajari fungsinya mirip sekali dengan agama. Singkatnya, filsafat sebagai philoshopy of life gunanya ialah untuk petunjuk dalam menjalani kehidupan.
Filsafat juga sebagai methodology dalam memecahkan masalah. Sesuai dengan sifat filsafat, ia akan menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal. Penyelesaian masalah secara mendalam artinya menyelesaikan masalah dengan cara pertama-tama mencari penyebab yang paling awal munculnya masalah. Universal artinya melihat masalah dalam hubungan seluas-luasnya.

B.     PRINSIP-PRINSIP DALAM BERFILSAFAT

            Dalam kehidupan yang manusia tidak tahu apa yang akan terjadi dalamnya, yang tidak tahu apa yang akan menimpanya, yang hanya bisa menebak dan  tidak bisa memastikan, karena yang ada hanyalah peluang yang belum tentu tepat, sehingga dapat merubah garis jalan kehidupannya yang membuat arah manusia itu berbelok entah kemana, yang kadang kelokan itu membawanya pada tujuan yang diharapkan dan kadang kebalikannya, manusia membutuhkan komponen yang tak bisa dihiraukan begitu saja itu adalah log pose atau penunjuk arah dan tekad yang kuat agar garis finish yang ditujunya bisa tercapai. Namun kadang tekad itu mengendur bahkan hilang tergantikan oleh tekad yang baru. Itulah yang akan terjadi bila manusia tidak mengingat akan prinsip yang harus ia jadikan penguat tekad dan penunjuk arah tersebut.

            Prinsip adalah rambu yang mengingatkan tujuan sebenarnya yang sudah ditempel pada awal perjalanan. Manusia hidup sesuai prisipnya masing-masing, manusia mengatur langkahnya menggunakan prinsip dengan harapan ia dapat mencapai tujannya. Namun prinsip bukanlah suatu rambu yang dibuat oleh ego sendiri. Prinsip yang kita buat tidak bisa dijadikan patokan bila mengganggu prinsip lain, menghadang jalan lain, mengubah arah jalan lain ke jurang dalam. Dampak tidak mematuhi prinsip yang benar dapat berupa dampak yang besar dan dampak yang sedikit-sedikit menjadi besar. Besar atau kecilnya dampak yang akan terjadi dapat diprediksikan dari penting atau tidaknya langkah pelaku.
            Seorang filsuf dapat dikatakan sebagai pelaku yang mempunyai langkah penting, dan mempunyai andil pada langkah orang lain. Seorang filsuf mempunyai tugas menyalakan lilin di ruang gelap menunggu matahari terbit lagi. Sebuah peradaban dapat berjalan baik atau buruk tergantung pada ilmuan itu, apakah dia memegang prinsip untuk menerangi jalan atau memperburuk keadan.

            Sebagai manusia yang hidup berdampingan, yang belajar dengan melihat apa yang terjadi pada kehidupan yang sepertinya ramai ini, yang berinteraksi satu sama lainnya, yang saling memenuhi kebutuhan satu sama lainnya pasti dapat mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk. Semua hal yang dicetuskan merupakan hasil dari pertimbangan dalam kehidupan, begitupun dengan prinsip di bawah ini. Prinsip ini merupakan hasil pertimbangan dari pengelihatan dan pemikiran tentang hal yang sewajarnya dimiliki oleh seorang makhluk hidup yang berpopulasi, terutama seorang filsuf.
           
             Dari pertimbangan itu mengasilkan  Lima prinsip penting dalam berfilsafat:

1.      Meniadakan kecongkakan mana tahu sendiri

Prinsip ini adalah prinsip yang harus selalu dipegang oleh manusia dalam segala keadaan, tanpa prinsip ini manusia tidak akan menemukan ke-objektifitasan terhadap apa yang telah ditelaahnya. Terutama dalam berfilsafat, seorang filsuf itu tidak akan menemukan jalan lain yang padahal jalan itu sendiri dapat memberikannya jalan keluar terhadap jalan pikirannya yang mungkin sedang terhalang oleh tembok permasalahan yang tidak dapat diatasi olehnya sendiri.

    Seorang filsuf pernah berpantun tentang macam manusia:
            Ada orang yang tahu ditahunya
            Ada orang yang tahu ditidaktahunya
            Ada orang yang tidak tahu ditahunya
            Ada orang yang tidak tahu ditidaktahunya[15]

Itulah mengapa seorang filsuf tidak boleh mengurung pikirannya. Seorang filsuf harus selalu bercermin terhadap pikirannya agar tidak termasuk macam orang yang tahu ditidaktahunya  dan tidaktahu ditidaktahunya.

2.      Perlunya sikap mental berupa kesetiaan pada kebenaran

Dalam prinsip ini seorang filsuf haruslah berpikir tentang dampak apa yang akan terjadi bila ia menyembunyikan kebenaran. Janganlah terjadi kejadian seorang filsuf merubah arahnya ke jalan menuju jurang kesesatan. Berfilsafat merupakan berjalan mendahului orang lain untuk mengetahui jalan mana yang benar yang pantas untuk ditunjukkan kepada orang lain. Bila seorang filsuf menyembunyikan kebenaran dan menunjukkan arah yang salah maka orang lain yang di belakangnya pun akan jauh ke jurang kesesatan.

Dalam petualangan kehidupannya, seorang filsuf haruslah berjanji kepada dirinya untuk menuju garis finish yang sebenarnya. Meskipun ia harus merasakan lubang di jalan. Meskipun jalan yang ditempuhnya sangat panjang. Namun mental yang kuat untuk seorang filsuf dapat menenangkannya demi garis finish yang sudah menunggunya.

3.      Memahami secara sungguh-sungguh persoalan-persoalan filsafat serta berusaha memikirkan jawabannya.

Dalam prinsip ini yang menjadi acuan pokok adalah tekad dan kegigihan seorang filsuf. Sebenarnya prinsip ini dapat kita benarkan dengan melihat kejadian yang terjadi pada kehidupan yang dialami, apa maksudnya? Dapat kita lihat sendiri tidak ada satupun makhluk hidup yang berdiam diri, tak beraksi untuk memenuhi kehidupannya. Semua makhluk hidup  berjuang untuk dapat bertahan hidup. Begitupun dengan seorang filsuf, ia dapat bertahan dan berhasil mendapatkan jawaban yang dibutuhkan dengan kegigihannya melawan beratnya masalah yang dihadapi.

4.      Latihan intelektual itu dilakukan secara aktif dari waktu kewaktu dan diungkapkan baik secara lisan maupun tertulis.

Seperti yang telah kita ketahui dalam film-film yang kita tonton, seorang pendekar mulai mengembara ketika latihannya telah selesai, dan siap menghadapi kenyataan yang ada. Hal itu hampir sama dengan seorang filsuf hanya saja seorang filsuf melakukan latihannya bukan hanya ketika hendak mengembara namun seorang filsuf melakukannya terus meskipun sudah berada pada tahap pengembaraan. Itu semua dilakukan karena tidak selamanya pedang dipakai untuk menebas. Seorang filsuf harus berlatih menjadi orang yang flexible, agar ia siap menerima dan mengirim pemikirannya pada masalah yang datang pada waktu yang terus berubah.
5.      Sikap keterbukaan diri, artinya orang yang mempelajari filsafat sebaiknya tidak dihinggapi oleh prasangka tertentu.

Prinsip ini sebenarnya mempunyai hubungan dengan prinsip yang pertama. Tujuan dari prinsip ini sama dengan prinsip yang pertama, hanya saja bila prinsip yang pertama berupa larangan dan prinsip ini berupa perintah. Namun tetap kedua prinsip itu mempunyai point khusus dan saling berkesinambungan. Seorang filsuf dilarang mempunyai sifat mana tahu sendiri, pada prinsip ini memberikan syarat untuk memegang prinsip yang kelima. Bila seorang filsuf sudah bisa mengatur ego nya, maka ia harus belajar untuk melaksanakan prinsip keterbukaan ini. 

KESIMPULAN
Pemikiran filosof dapat digolongkan ke dalam tiga bagian besar, yaitu mengenai cara memperoleh pengetahuan (teori pengetahuan), mengetahui hakikat (teori hakikat), dan mengenai kegunaan (ini yang disebut teori nilai). Jadi sistematika filsafat itu adalah teori pengetahuan, teori hakikat dan teori nilai. Di dalam cabang-cabang itu muncul isme-isme. Dikarnakan filsafat adalah hasil pemikiran berupa sistem, sistem itu mempunyai karakteristik sendiri-sendiri.
Berfilsafatpun mempunyai prinsip-prinsip yaitu, meniadakan kecongkakan mana tahu sendiri, perlunya sikap mental berupa kesetiaan pada kebenaran, memahami secara sungguh-sungguh persoalan-persoalan filsafat serta berusaha memikirkan jawabannya, latihan intelektual secara aktif baik secara lisan maupun tertulis, dan sikap ketebukaan sendiri. 
 
                                              DAFTAR PUSTAKA
Suriasumantri, Jujun.S. Filsafat Ilmu sebuah pengantar populer. Jakarta: Pustaka  Sinar Harapan, 1998
Maksum, Ali. Pengantar Filsafat. Jogjakarta: Ar-Ruz Media, 2011
Tafsir, Prof.Dr.Ahmad. Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008
Abidin, Dr. Zainal. Pengantar Filsafat Barat. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2011


[1] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer,(Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1998) hal. 32
[2] Ali Maksum, Pengantar  Filsafat,(Jokjakarta : Ar-Ruz Media, 2011) hal.36-37
[3] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,(Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2008) hal. 23
[4] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,(Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2008) hal.23
[5] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,(Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2008) hal.24
[6] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,(Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2008) hal 25
[7] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,(Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2008) hal 26
[8] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,(Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2008) hal.27
[9] Intuisi adalah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika.
[10] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,(Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2008) hal.28

[11] Naturalisme merupakan aliran tertua, pada pikiran yang masih sederhana, apa yang kelihatan dijadikan kebenaran terakhir. Tak mampu memikirkan sesuatu yang abstrak.
[12] Skeptis-isme adalah aliran (paham) yang memandang sesuatu selalu tidak pasti (meragukan, mencurigakan)
[13] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,(Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2008) hal.30

[14] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,(Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2008) hal.42

[15] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu (sebuah pengantar populer), Pustaka Sinar Harapan. Jakarta, 2003

No comments: